Senin, 28 Agustus 2017

Kita ini Sangat Pelit Pada Pada Akhirat, Kalau Tidak Percaya ini Buktinya

Memang tak dapat dipungkiri, kalau hidup di dunia ini penuh dengan cobaan. Biasanya yang paling utama dan banyak dikeluhkan adalah masalah materi.

"Memang segalanya tak bisa dibeli dengan uang, namun segalanya di dunia ini membutuhkan uang" begitu pendapat banyak orang.


Padahal Allah itu diatas segalanya, barang siapa yang percaya pada kemurahanya maka jangankan masalah ekonomi, cobaan sebesar apapun pasti bisa dilalui dengan mudah.




Ada memang yang hanya bisa berdalih bahwa dunia dan akhirat itu harus seimbang. Namun pada kenyataannya hanya sibuk dengan keperluan perut, keperluan barang dan keperluan duniawi lainnya, sehingga enggan bersedekah dan menyisihkan sedikit hartanya di jalan Allah.

Lalu menggunakan kata-kata di awal tadi sebagai senjata untuk menolak mempersiapkan akhiratnya sebaik-baiknya.

Maha Benar Allah atas segala firman-Nya. Dalam Qur’an Allah telah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, Dan Sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, Dan Sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” (Qs. Al-Aadiyat: 6-8)

Kebanyakan dari manusia lupa bahwa yang memberi rezeki adalah Allah. Mereka lalai dan sombong karena menganggap bahwa harta yang mereka miliki adalah hasil kerja keras mereka seutuhnya, sehingga sesuka hati mereka ingin dipakai untuk apa. Dan mereka yang sedemikian pun sungguh bukanlah manusia yang pandai bersyukur.

Adapun syukur atas rezeki sebenarnya sangat tidak cukup jika hanya diucapkan dibibir. Hanya dengan mengucapkan Alhamdulillah tanpa dilanjutkan dengan perbuatan nyata. Bukankah syukur itu lebih nyata jika kita melanjutkannya dengan menyisihkan sebagian kecil darinya untuk disedekahkan?

Lantas jika kita mendapatkan rezeki kemudian enggan menyisihkan sebagian darinya dan beranggapan ucapan Alhamdulillah sebagai tanda syukur telah cukup untuk menyeimbangkan kebutuhan dunia dan akhirat kita?

Ya memang benar Allah tidak membutuhkan rezeki kita dibagi dengan Nya sebab Allah itu Maha Kaya. Tetapi bukankah ada saudara-saudara kita yang membutuhkannya?


Dan jika kita menyisihkannya dengan bersedekah bukankah kita telah menambah harta kita untuk kebutuhan akhirat? Apakah kita melupakan akhirat sehingga kikir terhadap keperluan kita menggapai akhirat? Bukankah harta yang disedekahkan akan menjadi pahala buat kita? Sungguh sangat pelit diri kita atas kebutuhan kita terhadap bekal akhirat.

Seberapa pelitnya kita selama ini untuk akhirat kita? Melansir Islampos.com, mari sedikit berilustrasi soal pengeluaran kita -harta kita untuk akhirat dan dunia. Adapun ilustrasi ini hanyalah ilustrasi kasar apa adanya. Tetapi bisa dijadikan sedikit bahan renungan . . .

Untuk Akhirat:
Kapan kita menyisihkan sebagian harta kita kepada kebutuhan kita untuk akhirat?
Saat pembayaran zakat fitrah? Berapa?

Sekitar 2,5 kg beras? 2,5 x harga beras kualitas medium +- 8.000 rupiah. 2,5 x 8.000 = 20.000

Dari zakat 20.000 rupiah pertahun

Masukin kotak infak saat jum’atan? Berapa? Rp 500? atau rp 1000? Atau Rp 2000 mungkin?

2000 x 4 = 8000
8000 x 12 = 96.000

Dari infak jum’at = 96.000

Infak shalat ied misalkan = 5000
x2 shalat Ied setahun = 10.000

Jadi totalnya 20.000
96.000
10.000
————————+
126.000

Berapa usia kita saat ini?

Jika usia 21 tahun, berarti 21 x 126.000 = 2.646.000

Berarti kita menyisihkan harta kita untuk dibelanjakan kebutuhan akhirat adalah Rp. 2.646.000 rupiah sejak lahir hingga usia 21 tahun (kurang lebih). Bahkan lebih murah daripada harga HP Samsung Galaxy J7 yang saya baca di tabloid masih 3 jutaan.

Bayangkan, kita hendak menukar HP Samsung Galaxy J7 dengan surga firdaus dan mengharapkan uang kembalian pula.

Untuk Dunia
Makan sehari 10.000 (misalkan)
Pulsa Hp seminggu 10.000 (misalkan)
Kuota sebulan 100.000 (misalkan)
beli baju setahun sekali 200.000 (misalkan)
lain-lain seminggu 50.000 (Umpamanya)

10.000 x 30 = 300.000 (sebulan) x 12 = 3.600.000 (setahun)
10.000 x 4 = 40.000 (sebulan) x 12 = 480.000 setahun
100.000 x 12 = 1.200.000 setahun
200.000
50.000 x 4 = 200.000 (sebulan) x12 = 2.400.000 (setahun)

————————————————————————+
Total biaya hidup setahun = 7.880.000 Setahun

Perbandingan:
Akhirat 21 tahun setara HP Samsung Galaxy J7 (ada kembalian malah)

Diduniawi 1 tahun HP Samsung Galaxy J7 (nombok dikit)

Mari kita renungkan sejenak dan menilai-nilai dan menimbang-nimbang kembali sudah kemana saja rezeki yang Allah berikan kepada kita tersalurkan? Apakah lebih banyak manfaatnya untuk kita atau lebih banyak sia-sianya bahkan menjadi dosa bagi kita (jika digunakan untuk maksiat).

Bukankah rezeki yang Allah berikan kepada kita itu layaknya modal? dan tujuan dari perniagaannya adalah akhirat? jika modal kita habiskan untuk hal yang sia-sia maka bagaimana kita bisa berniaga untuk mendapatkan akhirat?

Wahai saudaraku seiman seIslam, marilah kita berinvestasi di jalan Allah.

Sebagian dari rezeki yang Allah berikan kepada kita mari kita fungsikan benar-benar sebagai modal menuju akhirat.

Memang benar kita membutuhkan rezeki untuk memenuhi kehidupan kita di dunia. Itu tidak salah. yang salah jika kita menjadidan rezeki itu semata-mata untuk memenuhi kehidupan duniawi kita sehingga kita menyepelekan dan menomorduakan fungsi sebenarnya yaitu menjadi modal menuju akhirat kelak. Bukankan semua yang ada di muka bumi ini adalah cobaan?

Ilustrasi ini semoga bisa membantahkan sanggahan mereka yang enggan bersedekah dan berinfak dengan berdalih masih kekurangan ini dan itu padahal sesungguhnya mereka masih memiliki harta yang mencukupi untuk kebutuhan hidupnya dan tidaklah mereka dalam keadaan kekurangan.

Adapun sebagian diantara mereka enggan bersedekah sedangkan mereka selalu berlebih-lebihan dalam harta. Sesungguhnya mereka seharusnya malu kepada Allah dan kepada diri mereka sendiri.

Dan pesan yang terakhir:

“Jika ibadahmu ternomor duakan urusan dunia, amalmu tak sebanding dengan kecintaanmu terhadap dunia, bagaimana kau bisa menyeimbangkan keduanya? Sedangkan selisih antara keduanya begitu jauh?” Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar